Kamis, April 30, 2009

MASA PENANTIAN





Rabu 25 - february - 2009 adalah hari yang menegangkan bagi saya sebagai suami, karena Dokter memberi tahukan bahwa anak yang dikandung oleh istri saya akan lahir pada tanggal tersebut.


Penantian, itulah yang ada dalam benak Ku, tepat jam 18.25 wita (25-02-09 Malam Kamis )istri saya mengeluh kesakitan, semua panik, dengan tergesa - gesa Om mengambil mobil terus menuju Bidan.


Eh ternyata begitu diperiksa, ibu bidan tersebut hanya berkata " Ini masih belum terjadi apa - apa masih sakit biasa ", pulanglah kita semua ke rumah.


Kamis pagi 26- 02 - 09 saya berniat mau berangkat kerja tapi saya mengurungkan niat untuk pergi dan berniat mengantar istriku ke bidan karena saya kasihan kayaknya dia merasa sakit dan saya juga gak sabar untuk menimang - nimang anak , pagi hari itu juga saya mengantarkan istriku didampingi ibu mertuaku. Saya bersyukur karena bidan memberi tahukan istriku sudah bukaan dua, semua sanak keluarga lega mendengarnya, ibu mertuaku ambil kesimpulan untuk tidak pulang kerumah dan tetap tinggal di rumah bidan. Jam 07.00 - 08.00bukaan dua & tiga, jalan - jalan itulah yang dilakukan istri saya sambil menunggu beberapa bukaan yang selanjutnya, jam 11.35 - 15.50 masuk bukaan empat sampai sembilan.


Panik, hanya itu yang saya rasakan, saya berdo'a kepada Alloh Swt "Ya Alloh selamatkan lahir batin anak dan istri saya". ibu bidan dan asisten mulai mempersiapkan peralatan persalinan, 15.50 - 16.45 proses persalinan yang


Sore hari rasa sakitnya semakin sering dan membuat istriku sudah susah bergerak. Jam 16.40 wita aku mulai merasa ngantuk yang amat sangat, saya terus berusaha mengajaknya berbicara agar istriku tak tertidur. Ibu bidan menyuruh istriku untuk mengatur pernafasan agar bayi cepat keluar, capek - lemah itu yang di rasakan istriku sampai akhirnya ibu bidan menyarankan untuk di infus, selang beberapa menit kemudian jam 17.00 wita Alhamdulillah…Alhamdulillah ucapku dan suami. setelah beberapa menit, akhirnya kudengar suara tangisnya yang kencang… Alhamdulillah kembali terucap dari bibir kami. Setelah dibersihkan, diukur dan ditimbang, panjangnya 49cm dan beratnya 3kg. Ternyata kisah belum berakhir, aku masih harus menunggu ari-ari keluar, Laa haulawalaa kuata illaa billaah.. Subhanallah, AllahuAkbar, Alhamdulillah… Hanya itu yang bisa terucap dibibirku. Untuk istriku terimakasih tak terhingga karena telah berhasil dalam menjalani proses yang paling menegangkang dalam episode kehidupan-Mu. I Love U… Kini tugas kita berdua untuk mendidik buah hati tercinta agar menjadi Hamba Allah yang bertakwa - iman.. Semoga titipan Allah yang menjadi anugrah terindah dalam hidup kita dapat kita jaga dan didik sebaik-baiknya

Tidak ada komentar: